Baptisan

Download materi presentasi

DISINI

A. Arti Kata Baptis

Kata “baptis” diambil dari bahasa Yunani, Baptizo yang artinya menenggelamkan sepenuhnya atau mencelupkan ke dalam cairan.

Meliputi seluruhnya dengan cairan, mencelupkan sesuatu ke dalam cairan kemudian mengeluarkannya kembali, dibanjiri, dicelupkan, dibenamkan. (Strong’s Exhaustive Concordance by James Strong, S.T.D., LL.D., 1890)

Jadi, dibaptis air artinya ditenggelamkan atau diselamkan ke dalam air. Membaptis dengan cara selam adalah sesuai dengan teladan Alkitab.  Di dalam Alkitab kita menjumpai bahwa Tuhan Yesus, murid-murid-Nya, dan semua orang percaya melakukan baptisan air dengan cara selam (Matius 3:16; Kisah 8:38-39). Maka sekarang kita melakukan baptisan air dengan cara ditenggelamkan atau diselamkan ke dalam air di dalam nama Allah Bapa dan Putra dan Roh Kudus.

B. Makna Baptisan Air

1. Tanda Ketaatan

“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus,  ……..” (Matius 28 19-20).

Baptisan air adalah salah satu perintah yang diperintahkan oleh Tuhan Yesus kepada setiap murid-Nya dalam “Amanat Agung”, maka setiap orang yang percaya harus dibaptis sebagai bukti ketaatan kita kepada Tuhan.

2. Tanda Ikatan Perjanjian antara Allah dan Manusia

a. Tanda ikatan perjanjian dalam Perjanjian Lama

Di dalam Perjanjian Lama, Allah mengikat perjanjian dengan Abraham dengan tanda sunat.  Di pihak Allah: Allah memberikan suatu janji yang luar biasa kepada Abraham.  Di pihak Abraham: Abraham dan keturunannya harus melakukan sunat sebagai tanda perjanjian dan tanda iman mereka kepada janji Allah.

b. Tanda ikatan perjanjian dalam Perjanjian Baru

Di dalam Perjanjian Baru, Allah menetapkan tanda perjanjian dengan baptisan air.  Baptisan air dipakai sebagai tanda seseorang menjadi milik Kristus.  Orang yang menjadi milik Kristus juga berhak atas janji Allah yang telah Allah berikan kepada Abraham dengan tanda sunat.  Kita tidak lagi melakukan sunat, tetapi kita melakukan baptisan air sebagai bukti kita mengakui pengorbanan Yesus yang mati untuk menebus dosa kita sehingga kita pun menjadi milik Kristus.

Dalam Dia kamu telah disunat, bukan dengan sunat yang dilakukan oleh manusia, tetapi dengan sunat Kristus, yang terdiri dari penanggalan akan tubuh yang berdosa, karena dengan Dia kamu dikuburkan dalam baptisan, dan di dalam Dia kamu turut dibangkitkan juga oleh kepercayaanmu kepada kerja kuasa Allah, yang telah membangkitkan Dia dari orang mati. (Kolose 2:11-12).

Karena kamu semua, yang dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan Kristus.  Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus. Dan jikalau kamu adalah milik Kristus, maka kamu juga adalah keturunan Abraham dan berhak menerima janji Allah. (Galatia 3:27-29).

Melalui baptisan air kita mengikat perjanjian dengan Allah.  Jemaat dan hamba Tuhan yang hadir menjadi saksi pengikatan perjanjian kita dengan Allah.  Kita juga menyatakan di hadapan jemaat-Nya bahwa sejak saat itu kita adalah milik Kristus.

3. Tanda bukti komitmen kita bahwa manusia lama yang penuh dosa dikubur dan menerima hidup yang baru

“Atau tidak tahukah kamu, bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematian-Nya? Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru.” (Roma 6:3-4).

Pada saat kita diselamkan di dalam air, kita sedang dikuburkan.  Pada saat kita keluar dari air, kita mengalami kebangkitan untuk hidup dalam cara hidup yang baru.

Melalui baptisan air kita menyatakan komitmen kita di hadapan Allah dan jemaat-Nya untuk meninggalkan kehidupan yang dikuasai oleh dosa dan menerima kehidupan yang dikuasai oleh kebenaran.  Segala sesuatu yang salah yang biasa kita lakukan harus mulai dibuang dan ditinggalkan, dan kita mulai mencari perkara-perkara yang di atas yang benar dan kudus (Kolose 3:1-3).

Seiring adanya komitmen untuk hidup dalam hidup yang baru, maka baptisan air sering kali dikaitkan dengan kelahiran baru.  Namun baptisan air bukanlah kelahiran baru, kelahiran baru dapat terjadi sebelum atau sesudah baptisan air.  Memang indah, jika baptisan air dan kelahiran baru itu terjadi bersama-sama.  Kelahiran kembali atau kelahiran baru itu merupakan suatu karunia hidup baru yang Allah berikan di dalam Kristus, oleh pekerjaan Roh Kudus dan dengan perantaraan Firman Allah, ketika manusia rela menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah.

C.    Siapakah yang Dibaptis?

  1. Semua orang percaya harus dibaptis

Di dalam Alkitab dikatakan bahwa semua orang percaya harus dibaptis (Kisah 2:38; 8:12).  Tuhan Yesus sendiri memberi teladan dibaptis (Lukas 3:21).  Waktu seseorang bertobat dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya, pada saat itu mereka boleh dibaptis (Kisah 2:38; Kisah 16:32-33).

Syarat seseorang dibaptis air sangat sederhana, yaitu ia sudah percaya Tuhan Yesus dan sudah bertobat.  Selama Tuhan masih memberikan kekuatan dan kesempatan, jangan menunda-nunda waktu, sebab Tuhan telah menyiapkan anugerah yang besar bagi Saudara yang taat melakukan perintah-Nya (Kisah 18:8; 22:16).  Karena itu, segera setelah Saudara percaya Tuhan Yesus dan bertobat, lakukanlah baptisan air.

2. Bayi-bayi tidak dibaptis.

Bayi-bayi tidak dibaptis, sebab mereka belum bisa mengerti bahwa Yesus itu Tuhan dan Juruselamat, tetapi bayi-bayi dan anak-anak cukup diserahkan kepada Tuhan dan harus dididik di dalam Tuhan oleh orang tuanya.  Pada bagian akhir pelajaran ini akan dibahas mengenai penyerahan anak.

3. Jika baptisan sebelumnya tidak sesuai Firman Tuhan boleh dibaptis ulang.

Waktu seseorang mengerti bahwa baptisan yang pernah dijalaninya tidak sesuai dengan Firman Allah, ia boleh dibaptis ulang (Kisah 19:4-5).  Dalam kisah tersebut, baptisan kedua belas orang di Efesus tidak sesuai dengan Firman Tuhan.  Memang mereka bertobat ketika dibaptis, tetapi mereka belum menerima Yesus sebagai Tuhan.  Kemudian mereka dibaptis ulang.

D. Baptisan Roh Kudus pada Saat Baptisan Air

Baptisan air sering kali disertai dengan baptisan Roh Kudus.  Hal ini sesuai dengan janji Tuhan bagi orang yang dibaptiskan sebagaimana nas berikut:

“Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus.” (Kisah 2:38)

Sebagai manusia, ketika Yesus dibaptis di sungai Yordan, Roh Kudus turun ke atas-Nya dalam rupa burung merpati (Lukas 3:21-22).  Sejak saat itu peran Roh Kudus nyata dalam pelayanan Yesus (Lukas 4:1,14,18).

Setelah kedua belas jemaat di Efesus membaharui baptisan mereka, turunlah Roh Kudus ke atas mereka, dan mulailah mereka berkata-kata dalam bahasa roh dan bernubuat (Kisah 19:5-6).

Peristiwa baptisan Roh Kudus yang menyertai baptisan air bukan hanya dicatat dalam Alkitab.  Pada masa kini hal itu masih terjadi.

BAPTISAN ROH KUDUS

Peristiwa turunnya Roh Kudus pada hari Pentakosta (Kis. 2) merupakan penggenapan janji Bapa  tentang baptisan Roh Kudus (Kis. 1:4-5), yang memberikan kuasa kepada orang percaya untuk melayani (Kis. 1:8).

Dalam Perjanjian Lama, Roh Kudus “beserta” orang tertentu untuk sementara waktu/ temporer (I Sam. 16:14).  Dalam Perjanjian Baru setelah Pentakosta, Roh Kudus “berdiam” dalam hati semua orang percaya selamanya (Yoh. 14:16-17).  Pendiaman Roh Kudus terjadi saat lahir baru. Tidak seorang pun mengaku “Yesus Tuhan” selain oleh Roh Kudus (I Kor. 12:3). Setelah kelahiran baru kita harus mengalami baptisan Roh Kudus agar menerima kuasa menjadi saksi.

Baptisan Roh Kudus berbeda dengan baptisan air yang dilakukan Yohanes Pembaptis sebagai tanda pertobatan (Luk. 3:16).  Ini juga berbeda dengan yang dimaksud Paulus dalam I Kor. 12:13, “Sebab di dalam satu Roh kita semua … telah dibaptis menjadi satu tubuh …” Dalam ayat ini Paulus menunjukkan pengalaman pada saat seseorang mengalami kelahiran baru yang menempatkan mereka ke dalam tubuh Kristus (gereja). Yohanes Pembaptis menyatakan bahwa Yesuslah Pribadi yang membaptis dalam Roh Kudus (Mat. 3:11, Mark. 1:8, Luk. 3:16, Yoh. 1:33, Kis. 1:5), sedangkan  Paulus menyatakan bahwa Roh Kuduslah yang membaptis kita ke dalam Yesus Kristus, yaitu ke dalam tubuh Kristus (I Kor. 12:13, Gal. 3:27).  Kedua baptisan ini berbeda.  Pertama-tama Roh Kudus membaptis kita ke dalam tubuh Kristus (= kelahiran baru),  kemudian Yesus membaptis kita dengan Roh Kudus (= baptisan Roh Kudus).

Untuk dibaptis dengan Roh, seseorang harus terlebih dahulu dilahirkan oleh Roh. Baptisan Roh terjadi sesudah pengalaman kelahiran baru (keselamatan), walaupun bisa terjadi pada waktu yang hampir bersamaan. Kelahiran baru memberi hati dan kehidupan baru (II Kor. 5:17) sehingga kita menjadi anak Allah yang diselamatkan dan memiliki hidup kekal. I Kor. 12:3 mencatat, “Tidak ada seorang pun, yang dapat mengaku: “Yesus adalah Tuhan”, selain oleh Roh Kudus. Sedangkan baptisan Roh Kudus memberi kuasa Allah untuk hidup sebagai anak Allah yang menjadi saksi-Nya (Kisah 1:8). Baptisan dalam Roh Kudus bukanlah terutama untuk pengembangan kesucian dalam diri seseorang (walaupun hal ini mungkin terjadi dan harus ditingkatkan oleh baptisan dalam Roh); baptisan Roh Kudus memberi kuasa untuk melayani! (Luk. 24:49, Kis. 1:4-5, 8). Janji baptisan Roh Kudus ini diberikan kepada murid-murid yang sudah memiliki persekutuan yang akrab dengan Kristus. Nama mereka telah tertulis di surga (Luk. 10:20). Yang ditekankan Kisah 1:8 adalah kuasa untuk melayani, bukan kelahiran kembali, dan bukan pengudusan. Jadi seseorang bisa saja telah dilahirkan kembali, namun tidak memiliki baptisan dalam Roh Kudus dan urapan untuk melayani.

Peristiwa dalam Alkitab yang menunjukkan perbedaan antara kelahiran baru dan baptisan Roh Kudus, antara lain:

  1. Para Murid Kristus. Mereka telah mengaku Yesus adalah Kristus, Anak Allah yang hidup (Mat. 16:16, Yoh. 6:68-69). Yesus mengatakan bahwa nama mereka tertulis di Surga (Luk. 10:20). Setelah kebangkitan, Yesus mengembusi para muridnya dan berkata, “Terimalah Roh Kudus” (Yoh. 20:21), namun mereka tetap diperintahkan untuk menantikan janji Bapa yakni diperlengkapi dengan kekuasaan dari tempat tinggi (Luk. 24:49), yang kemudian digenapkan pada hari Pentakosta dengan pencurahan Roh Kudus kepada para murid (Kis. 2:1-4). Ini menunjukkan ada dua peristiwa (pengalaman) yang berbeda yang harus dialami oleh para murid dengan Roh Kudus.
  2. Orang Samaria yang Bertobat (Kis. 8:14-17). Filipus memberitakan Injil di Samaria sehingga banyak orang bertobat, percaya dan dibaptis dalam nama Tuhan Yesus. Pastilah mereka telah dilahirkan baru oleh Roh Kudus ketika itu. Tapi kemudian mereka menerima Roh Kudus ketika rasul-rasul datang dari Yerusalem dan menumpangkan tangan atas mereka.
  3. Rasul Paulus. Penglihatan pada jalan menuju Damsyik membuat Paulus mengaku ketuhanan Yesus (Kis. 9:3-6). Itulah saat pertobatan Paulus yang tentu dikerjakan oleh Roh Kudus. Tetapi kemudian Ananias datang dan menumpangkan tangan ke atas Paulus, dia terlepas dari kebutaannya dan dipenuhkan Roh Kudus (Kis. 9:17).
  4. Murid-murid di Efesus (Kis. 19:1-7). Paulus menemukan beberapa murid di Efesus yang telah menerima baptisan Yohanes. Paulus bertanya kepada mereka, apakah mereka telah menerima Roh Kudus ketika mereka percaya? Apakah makna pertanyaan Paulus ini? Seandainya semua murid menerima pengalaman Roh Kudus ini ketika mereka percaya, mengapa Paulus menanyakan hal ini kepada mereka?  Pertanyaan itu menunjukkan bahwa mungkin saja seseorang menjadi percaya tanpa menerima kepenuhan Roh Kudus.

Bagaimana kita dapat menerima baptisan Roh Kudus? Sesungguhnya baptisan Roh Kudus adalah karunia Tuhan. Pemberian ini adalah kedaulatan Allah kepada orang-orang percaya yang haus akan baptisan Roh Kudus yang meminta di dalam doa dengan iman (Yoh. 7:37-39).

Kita meyakini bahwa tanda awal yang menyertai orang yang dibaptis dengan Roh Kudus ialah berkata-kata dalam bahasa roh. Bahasa roh ialah suatu bahasa baru yang diberikan oleh Roh Kudus kepada orang-orang yang menerima baptisan Roh Kudus, suatu bahasa yang tidak pernah mereka pelajari, suatu bahasa yang asing yang tidak dapat dimengerti oleh yang mengucapkannya ataupun yang mendengarkannya, sebab ia mengucapkan hal-hal yang rahasia yang dimengerti oleh Allah saja (I Kor. 14:2).

Ini nyata dari pengalaman orang Kristen mula-mula yang dicatat oleh Alkitab:

  1. Pada hari Pentakosta, 120 murid penuh Roh Kudus dan berkata dalam bahasa lain (Kis. 2:4).
  2. Di rumah Kornelius (Kis. 10:44-48, 11:15-17).
  3. Diantara orang-orang Samaria (Kis. 8:14-19) – Ada tanda lahiriah yang dilihat Simon. Kita percaya bahwa tanda itulah berkata-kata dalam bahasa roh.
  4. Para murid di Efesus (Kis. 19:5-6).
  5. Paulus penuh dengan Roh Kudus (Kis. 9:17). Kita yakin dia berkata-kata dalam bahasa roh karena ucapannya kepada jemaat di Korintus dalam I Kor. 14:18.

Apakah bahasa roh yang asli masih ada pada masa kini atau sudah berhenti setelah zaman para rasul? I Korintus 13:8-10 menunjukkan bahwa bahasa roh, nubuat, dan karunia pengetahuan (marifat) akan lenyap. Kapan? Jika yang sempurna tiba! Apakah yang sempurna itu sudah tiba? Menurut kaum Reformed ya, karena yang dipahami sebagai kesempurnaan itu adalah  kanonisasi Alkitab secara lengkap – 66 kitab dihimpun menjadi satu. Sedangkan kaum Pentakosta meyakini bahwa yang sempurna itu adalah kedatangan Kristus kembali, yakni saat kita akan melihat Dia dalam keadaan yang sebenarnya (I Kor. 13:11-12 dan I Yoh. 3:2). Jadi sampai Yesus datang kembali, bahasa roh masih tetap ada.

Kita perlu dibedakan manifestasi bahasa roh sebagai:

  1. Glossolalia, yakni bahasa yang tidak dimengerti oleh orang yang mengucapkan atau mendengarkannya, karena tidak pernah dipelajari sebelumnya. Ia mengucapkan bahasa itu karena ilham atau dorongan Roh Kudus (I Kor. 14:2).
  2. Suatu bahasa asing yang ada di dunia (mis: Belanda, Spanyol, Jepang dll) yang kita ucapkan padahal belum pernah dipelajari sebelumnya. Contoh: Pada hari Pentakosta apa yang diucapkan oleh para rasul dipahami oleh orang dari berbagai bangsa dan bahasa ( Kis. 2:1-13). Dalam ilmu linguistik disebut dengan istilah: xenolalia. Ini juga bisa merupakan tanda untuk orang yang tidak beriman, sedangkan nubuat adalah tanda untuk orang beriman ( I Kor. 14:22).

Kadang orang bertanya: “Mengapa dalam ibadah gereja Pentakosta/Kharismatik orang berkata-kata dalam bahasa roh bersama-sama, padahal Paulus berkata bahwa dalam pertemuan jemaat maksimal hanya 3 orang yang boleh berbahasa roh, satu demi demi dan harus ada yang menafsirkannya? (I Kor. 14:27-28). Disini perlu dibedakan antara:

  1. Karunia bahasa roh yang harus ditafsirkan untuk membangun jemaat (bahasa roh untuk tujuan nubuatan). Ini yang dibahas Paulus dalam I Kor. 14:27-28.
  2. Bahasa roh sebagai tanda awal baptisan Roh Kudus seperti yang dialami orang percaya dalam Kisah 2:1-4 (120 bersama-sama) atau dalam Kisah 19:6-7 (12 orang bersama-sama). Ini adalah bahasa roh untuk tujuan penyembahan. Jadi jika itu adalah bahasa roh sebagai tanda baptisan Roh Kudus yang fungsinya untuk membangun kerohanian diri (I Kor. 14:4a) maka bisa dilakukan bersama-sama dalam ibadah, seperti halnya pada hari Pentakosta.

Apakah bahasa roh adalah satu-satunya tanda baptisan Roh Kudus?  Menurut pandangan kelompok Pentakosta klasik, “Ya”. Berarti orang yang tidak berbahasa roh belum dibaptis dengan Roh Kudus. Namun kelompok neo-Pentakosta (Kharismatik) percaya bahwa bahasa roh hanyalah salah satu tanda pemenuhan Roh Kudus. Jadi orang percaya didorong untuk mendapatkannya. Karena semua pemberian yang baik berasal dari Allah (Yak. 1:17), dan tentu Tuhan memberikan bahasa roh itu dengan tujuan yang baik untuk membangun kerohanian kita. Jadi pertanyaan, “Haruskah saya berbahasa roh?” sebaiknya diganti dengan, “Maukah Anda berbahasa roh?”

Bahasa roh perlu digunakan terus (I Kor. 14: 5, 18, 39).  Faedah bahasa roh antara lain:

  • Tanda baptisan Roh Kudus.
  • Menolong ketika kita lemah (Rom. 8:26).
  • Membangun iman (menjadikan rohani kuat) – I Kor. 14:4, Yud. 1:20.
  • Mengucapkan bahasa rahasia (I Kor. 14:2).
  • Menyegarkan roh kita (Yes. 28:11-12).
  • Memuji Allah (I Kor. 14:15, Ef. 5:19).
  • Memelihara kepenuhan Roh Kudus (Ef. 5:18).

Baptisan Roh Kudus bukanlah merupakan sebuah puncak pengalaman rohani, melainkan pintu masuk ke dalam berjenis-jenis pelayanan dalam Roh yang disebut karunia-karunia roh. I Kor. 12:9-10 mencatat 9 karunia manifestasi Roh yang bisa digolongkan menjadi:

  1. Karunia Pernyataan, untuk mengucapkan kata: hikmat, pengetahuan, membedakan roh.
  2. Karunia Kuasa, untuk melakukan tanda-tanda ajaib: iman, menyembuhkan, mujizat.
  3. Karunia Pengungkapan, untuk mengungkapkan hal yang tersembunyi: nubuat, bahasa roh dan menafsirkan bahasa roh.

Karunia tersebut dalam pelaksanaannya sering bekerja sama dan tak terpisahkan. Karunia-karunia Roh ini bukanlah sesuatu yang “wajar”, dapat dipelajari, karunia alamiah, tetapi merupakan manifestasi illahi secara supranatural. Orang yang mendapat karunia ini adalah orang yang dipenuhi oleh Roh Kudus.

Karunia Roh untuk melayani ini harus diimbangi dengan buah Roh (Gal. 5:22-23). Ketika Roh Kudus memenuhi hidup seseorang maka Ia bekerja “keluar” dengan memberikan karunia-karunia Roh, dan “ke dalam” dengan memunculkan buah Roh. Buah Roh bukan sifat alamiah tetapi karakter orang percaya yang dibarui karena melekat pada Kristus (Yoh. 15:5). Itu meliputi:

  1. Hubungan dengan Allah (Vertikal) – pengalaman Kristen: Kasih, Sukacita, Damai Sejahtera.
  2. Hubungan dengan Sesama (Horizontal) – tingkah laku Kristen: Kesabaran, Kemurahan, Kebaikan.
  3. Hubungan dengan Diri Sendiri (Internal) – budi pekerti Kristen: Kesetiaan, Kelemah-lembutan, Penguasaan Diri.

Karakter Kristus yang indah di dalam kita disertai karunia-karunia Roh menyebabkan pelayanan dan kesaksian kita menjadi semakin efektif.

Sehubungan dengan adanya hamba Tuhan tertentu yang mengaku mendapat karunia Roh, bertemu Tuhan langsung, mendapatkan penglihatan dan menerima pesan-pesan khusus atau wahyu ilahi, maka dalam kesempatan ini kita juga perlu membahas perihal prinsip Penafsiran Alkitab yang perlu dipedomani kita percaya bahwa Roh Kudus melakukan pengilhaman tulisan Alkitab (inspiration) dan penerangan (illumination) untuk memahaminya kini. Allah tidak hanya berbicara pada masa Alkitab lalu berdiam diri, karena Alkitab adalah instrumen Roh dimana Allah terus berbicara kepada umat-Nya. Namun tidak ada pertentangan antara illuminasi masa kini dengan inspirasi masa lalu dalam Alkitab. Menekankan inspirasi saja dan mengabaikan illuminasi mengakibatkan ortodoksi mati.  Menekankan illuminasi masa kini dan abaikan inspirasi masa lalu mengakibatkan kesesatan. Tidak ada wahyu baru yang ditambahkan kepada Alkitab tapi ada suatu peningkatan (progress) dalam memahami implikasi iman. Kita setuju dengan pandangan “sola scriptura” namun kita memahami selain logos (firman yang tertulis) ada rhema (firman yang hidup, yang berbicara kuat dalam hati orang percaya yang membaca Alkitab).

Penafsiran Alkitab bisa meleset karena:

  1. Merancukan roh sendiri dengan Roh Kudus. Akibatnya muncul penafsiran yang subyektif (banyak yang bersifat alegoris), aneh-aneh, bahkan menyesatkan. Kita harus “menguji roh-roh” (I Yoh 4:1). Jangan menafsirkan Alkitab sesuai keinginan sendiri (2 Pet. 2:21), tapi harus mempertanggung jawabkannya pada komunitas iman. Fokusnya harus pada persekutuan orang percaya ketimbang pengalaman pribadi.
  2. Melihat keseluruhan dari sebagian. Alkitab itu membahas beragam ajaran yang luas dan komprehensif, karenanya jangan meneropongnya dari satu sudut saja. Misalnya: Semua ayat Alkitab dilihat dari sisi Tabernakel atau Kabar Mempelai atau Anugerah saja. Karena hal itu akan menyebabkan sikap berat sebelah dan ekstrim. Mari kita melihat yang sebagian itu dalam terang keseluruhan Alkitab.
  3. Membuat pengalaman pribadi menjadi titik tolak penafsiran Alkitab. Walaupun pengalaman pribadi penting, namun penafsiran Alkitab dan khotbah/ pengajaran harus berasal dari studi/ penggalian Alkitab, bukan pengalaman, apalagi “penerawangan”.

Pertanyaan Umum : Bolehkah dilakukan baptisan ulang?

Ada dua kisah tentang baptisan yang mungkin dapat dijadikan pertimbangan dalam perdebatan ini. Dua-duanya berhubungan dengan baptisan Yohanes Pembaptis.

Suatu kali Yohanes Pembaptis didatangi oleh sebagian orang Farisi dan Saduki yang ingin dibaptis juga (Mat 3:7-12). Yohanes tahu persis bahwa konsep mereka tentang baptisan keliru (hanya dipandang sebagai cara melepaskan diri dari hukuman Allah, tetapi tanpa disertai pertobatan yang sungguh-sungguh), karena itu ia menegur mereka dengan keras. Ia menegaskan bahwa baptisannya adalah sebagai tanda pertobatan, dan perlu disempurnakan melalui baptisan Yesus Kristus. Tidak ada petunjuk yang jelas apakah Yohanes pada akhirnya membaptis orang-orang itu. Menilik tegurannya yang begitu keras, ada kemungkinan besar Yohanes Pembaptis tidak mau membaptis mereka. Jika benar demikian, kita bisa menyimpulkan bahwa baptisan dewasa yang tidak didasari oleh pengertian yang tepat tentang baptisan menjadikan baptisan tersebut tidak bermakna.

Kisah selanjutnya terjadi di Efesus (Kis 19:1-5). Paulus menjumpai beberapa orang yang sudah dibaptis oleh Yohanes Pembaptis. Paulus tidak meremehkan baptisan Yohanes. Ia hanya menerangkan bahwa baptisan itu untuk pertobatan dan mengarahkan orang kepada Mesias, yaitu Tuhan Yesus. Pada saat orang-orang itu mendengar injil, mereka percaya kepada Yesus Kristus dan memberi diri untuk dibaptis dalam nama Tuhan Yesus. Paulus ternyata membaptis mereka lagi. Tidakkah cukup bagi Paulus untuk mengubah doktrin mereka tanpa harus dibaptis? Bukankah baptisan Yohanes tidak bertentangan dengan baptisan Kristiani (bahkan sebagai persiapan bagi yang lebih kemudian)? Kisah ini tampaknya memberi ruang tertentu untuk baptisan ulang.

Orang mungkin dapat menyanggah pernyataan di atas dengan menegaskan perbedaan antara baptisan oleh Yohanes dan baptisan oleh Yesus Kristus. Perbedaan itu dapat dijadikan alasan bahwa baptisan ulang diperbolehkan, bahkan diperlukan. Bagaimanapun, sanggahan ini kurang kuat. Paulus tidak menegaskan perbedaan antara dua baptisan itu saja, melainkan menerangkan bahwa baptisan yang awal mempersiapkan untuk yang kemudian. Dengan kata lain, ia lebih mempedulikan kesinambungan daripada kontras. Bahkan untuk yang bersifat berkesinambungan seperti ini Paulus bersedia melakukan baptisan ulang!

Perbedaan antara baptisan Yohanes dan baptisan Kristiani sebenarnya tidak terlalu jauh jika dibandingkan dengan perbedaan antara baptisan Kristiani yang tidak benar (dipaksa oleh orang lain dan tanpa pertobatan) dengan yang benar. Baptisan Yohanes masih memiliki makna dalam taraf tertentu. Baptisan dewasa Kristiani yang tidak benar hanyalah sebuah ritual tanpa makna. Jika yang masih bermakna dan berkaitan saja perlu diulang, bagaimana dengan yang mengandung perbedaan yang lebih jauh?  Berdasarkan pertimbangan ini, saya secara tentatif cenderung mengizinkan baptisan ulang bagi mereka yang pernah mengikuti baptisan dewasa tetapi bukan atas kehendak sendiri dan tidak disertai dengan konsep yang benar tentang baptisan.