Berkarir sebagai guru

Bertepatan dengan perayaan Hari Guru Nasional yang diperingati setiap tanggal 25 November, kita diingatkan akan sosok para guru yang pernah mengajar kita saat duduk di kursi sekolah dasar sampai menengah.

Ya, memilih profesi sebagai guru adalah keputusan yang mulia karena diputuskan bukan dengan alasan membutuhkan pekerjaan. Jauh daripada itu, memilih menjadi guru pastilah didasarkan pada cita-cita dan impian untuk menciptakan perubahan lewat pendidikan.

Pedro seorang guru asal Madrid, Spanyol mengatakan bahwa menjadi guru sama sekali tidak mudah. Itu adalah pekerjaan yang menuntut banyak pengorbanan. Meski begitu ada kebanggaan dan kepuasan tersendiri di dalam menjalankannya dibanding dengan menggeluti pekerjaan lain. Salah satu alasan yang memotivasi dirinya menggeluti profesi sebagai guru adalah kecintaan terhadap anak-anak. Untuk mewujudkan cita-citanya, seorang guru biasanya akan berkorban dan melakukan tugas-tugas mulia demi mencetak generasi cerdas.

Dalam menjalankan tugasnya mendidik dan mencerdaskan bangsa, banyak tantangan yang dilalui guru demi mewujudkan cita-citanya mengubah bangsa dan hal itu patut diapresiasi.

Rela berkorban

Menjadi seorang guru menuntut kesabaran yang luar biasa. Sebab karakter itu adalah modal terbesar seorang guru untuk bisa menghadapi beragam jenis karakter anak didik. Keinginan untuk mendidik juga didorong oleh kasih sayang dan cinta yang timbul dari dalam hati hanya untuk mencetak anak didik yang cerdas.

Menjadi seorang guru tidak menjanjikan kesejahteraan dan kekayaan, namun guru rela menjalani kehidupan yang pas-pasan demi mewujudkan mimpi anak bangsa.

Belajar kreatif

Tantangan lain menjadi seorang guru adalah kerelaan untuk mau belajar kreatif. Salah satu modal menjadi seorang guru adalah memiliki pengetahuan yang luas. Adalah kegagalan seorang guru apabila kemampuannya didikte oleh murid-muridnya. Untuk itu, guru tidak hanya terus belajar tetapi juga mengasah kreativitasnya untuk disalurkan kepada anak didik. Seorang guru yang professional ditandai dengan pola mengajarnya yang kreatif dan tidak membosankan. Oleh sebab itu, mereka tidak pernah lelah untuk mengembangkan kemampuan dan pengetahuan melalui beragam pelatihan dan seminar-seminar pendidikan.

Berperan sebagai orang tua

Sebuah film berjudul ‘Freedom Writers’ berkisah tentang seorang guru yang memutuskan untuk berjuang mengubah anak-anak nakal dan bermasalah di dalam kelasnya menjadi orang-orang sukses dan berguna. Dengan segala macam kerja kerasnya, guru tersebut akhirnya berhasil mengubah kekacauan itu menjadi sebuah rumah yang nyaman bagi anak-anak muridnya. Kuncinya, sang guru memutuskan untuk menjadi orang tua asuh bagi anak-anaknya. Tak ubahnya seperti orang tua, ia memperlakukan setiap anak secara berbeda sesuai dengan karakternya masing-masing. Dia juga mencoba menjadi teman bagi anak-anak bermasalah untuk membantu mereka keluar dari setiap permasalahannya. Inilah yang dilakukan sebagian besar guru kepada anak didiknya.

Tugas-tugas di atas tentu saja tidak akan mudah dijalankan apabila pilihan itu tidak dilandasi dengan kerinduan dan cita-cita mulia untuk mencetak anak bangsa yang cerdas. Guru diibaratkan seperti Yesus yang juga datang untuk mengajar manusia yang kehilangan iman. Mari berterima kasih kepada mereka yang menyerahkan dirinya untuk cita-cita yang luhur dan mulia.

Sumber : Jawaban.com/ls