Guru: Pangggilan Mulia dan Pelayanan Berdampak

Saya ingat guru SD yg sangat saya kagumi, kesabarannya dan kasihnya menuntun murid-murid untuk bisa memahami pelajaran demi pelajaran.  Setelah 20 tahun saya meninggalkan kampung halaman dan kembali berkunjung, ternyata beliau masih saja mengajar sebagai guru.  Sementara murid-muridnya telah menjadi dokter, insinyur, sarjana hukum dll, ia tetap mengajar sebagai guru; mengajar baginya adalah bagian hidupnya, suatu panggilan yang mulia.  Keberhasilan baginya tidak berhenti pada dirinya, melainkan saat melihat orang lain (para murid) menjadi seseorang sebagaimana yg Tuhan kehendaki.

Dulu Indonesia mengirim guru ke Malaysia, namun sekarang hanya mengirim TKI.  Bahkan Malaysia menjual/memasarkan sekolah dan universitasnya ke Indonesia, diperkirakan ribuan siswa/mahasiswa dari Indonesia belajar di Malaysia akhir-akhir ini.  Apa yang sedang terjadi dalam dunia pendidikan kita? Dulu guru adalah suatu status sosial yang terhormat dan banyak orang tua bangga kalau anaknya menjadi guru.  Saat itu banyak pendidikan tinggi keguruan dibuka di berbagai kota.  Guru-guru dihasilkan, baik melalui pendidikan guru setingkat SLTA maupun perguruan tinggi.  Namun kemudian kita melihat bahwa tensinya mulai menurun, orang mulai berkata bahwa jadi guru itu adalah “pahlawan tanpa tanda jasa”. Ada sisi positifnya, namun negatifnya seakan menyatakan bahwa jadi guru itu masa depannya suram, gajinya rendah.

Bersamaan dgn itu jumlah guru yg diproduksi dianggap telah berlimpah, melebihi kebutuhannya.  Walaupun ada banyak sekolah-sekolah di pedesaan/pedalaman yg kekurangan guru sampai saat ini; persoalannya adalah kurangnya pemerataan guru dan rendahnya pengabdian.

Di sisi lain, fakultas keguruan mulai ditinggalkan peminatnya; sehingga mau tidak mau IKIP berubah/berkembang menjadi universitas-universitas dgn berbagai program pendidikan selain keguruan.  Tentunya situasi ini semakin membenarkan bahwa untuk menjadi guru sungguh-sungguh dibutuhkan kesadaran bahwa ini bukan sekedar profesi melainkan suatu panggilan.  Sebagaimana Firman Tuhan katakan :
“Saudara-saudaraku, janganlah banyak orang diantara kamu mau menjadi guru; sebab kita tahu, bahwa sebagai guru kita akan dihakimi menurut ukuran yg lebih berat…siapakah diantara kamu yg bijak dan berbudi? Baiklah ia dengan cara hidup yg baik menyatakan perbuatannya oleh hikmat yang lair dari kelemah lembutan…hikmat yg dari atas…” (Yakobus 3: 1, 13, 17).

Firman Tuhan menegaskan bahwa menjadi guru tidak mudah, perlu hikmat dari atas, hikmat Tuhan, berbeda sudut pandangnya dengan kebanyakan orang dan harus menjadi teladan.  Dari hidupnyalah sang murid akan belajar tentang kehidupan ini.  Bayangkan sedikitnya 15-35 jam setiap minggunya sang murid berinteraksi dengan guru.  Contoh hidup seperti apakah yang dibagikan oleh sang guru dan apakah yang akan diserap oleh seorang murid?

Tahun-tahun terakhir ini Pemerintah tampak lebih serius memperjuangkan nasib guru, ternyata dengan disahkannya Undang Undang Guru, pelaksanaan sertifikasi guru dan adanya upaya-upaya untuk merealisasikan anggaran pendidikan 20% dalam APBN.  Situasi ini sepertinya menggairahkan kembali semua perguruan tinggi ex IKIP yg kebagian tanggung jawab untuk melakukan peningkatan profesionalisme guru.  Semua gurupun mulai bersemangat untuk melanjutkan studi menyelesaikan S-1.  Semua ini patut disyukuri, namun tidak boleh menjadikan kita salah dalam meresponinya.  Janganlah kegairahan atau semangat belajar hanya dipacu oleh kepentingan materi/keuangan semata, melainkan haruslah tetap menyadari bahwa itu bagian dari panggilan Tuhan.  Kalau kita yakin bahwa menjadi guru adalah panggilan, maka guru harus setiap hari belajar, belajar dan belajar; sehingga ia dapat memberikan yg terbaik bagi muridnya.

Guru adalah pelayanan yg berdampak
Seorang guru, seharusnyalah menjadi seorang yang visioner.  Ia tidak saja melihat anak yang diajarnya hari ini, tetapi ia mampu melihat potensi anak dan mempunyai keyakinan bahwa ia sedang mengasah sebuah batu permata yang masih mentah.  Suatu saat –diperlukan waktu dan proses untuk mengasahnya- batu tersebut akan muncul menjadi permata yg indah dan berharga.
Proses mengasah membutuhkan waktu; berbicara tentang iman, kesabaran dan ketekunan seorang guru dalam membina murid-muridnya.  Yusuf membutuhkan waktu 13 tahun, sebelum ia menjadi penguasa di Mesir; Daud memerlukan waktu 8-9 tahun sebelum menjadi raja bagi seluruh Israel.  Ini adalah hukum proses, tidak ada yang instan dalam membentuk seorang murid.  Menjadi seorang guru, sesungguhnya adalah suatu pelayanan yang membawa dampak.
Apa yang menyebabkan mereka bertahan?  Saya melihat 2 hal ini ada dalam mereka, yaitu mereka sadar bahwa apa yang mereka kerjakan adalah suatu panggilan Tuhan yg mulia dan pelayanan yang berdampak.

ditulis oleh: Hans Geni Arthanto, MA